Advertisement

Orientasi penyelesaian "NERS" pertama, di Rumah Sakit Jiwa

Sudah sekitaran 3 minggu, dihitung sejak saya menyelesaikan seluruh proses mata kuliahan umum selama 4 tahun. Kali ini, ada proses setahun selanjutnya yang dikatakan "profesi Ners". 

Dalam Fakultas Keperawatan khususnya Sarjana keperawatan memiliki paket perkuliahan selama 5 tahun. Empat tahun pertama ditempuh didalam masa perkuliahan kampus dan belum praktik kerumah sakit, walau program Sarjana Keperawatan lainnya ada juga yang sudah. Namun beberapa masih belum. Di program tahun yang ke-5 sebenarnya tidak menjadi keharusan. Bisa mengikuti, bisa tidak. Hanya saja, jika tidak mengikuti akan sulit untuk bekerja dirumah sakit. Itulah perkenalan singkat mengenai proses perkuliahan Sarjana Keperawatan.



Dalam fase setahun selanjutnya banyak stase yang akan dilewati. Dari klinik, maternitas, bedah, panti jompo, puskesmas, hingga rumah sakit Jiwa. 

Perkenalan stase pertama ini cukup unik, di Rumah Sakit Jiwa. Walau awal-awalnya belum berasa apa-apa, melihat keadaan sekitar dari depan yang sejuk dan cukup sunyi. Ketika berjalan ke sekitar dan melihat cukup banyak ternyata mereka, sang penderita sakit Jiwa. Jika diperhatikan, sebenarnya para pasien dengan gangguan jiwa ini cukup menjadi minoritas yang bahkan jauh dari jangkauan. Tak semua masyarakat mengenali bahkan perduli. 

Pandangan yang masih awam dan merasa takut bahkan tak ingin mengusik. Membiarkan para pasien dengan gangguan jiwa dijalanan dengan tidak terurus dari segi kesehatan diri dan makanan.

Perlunya merubah pandangan masyarakat tentang gangguan jiwa sungguhlah perlu. Memperbaiki stigma yang salah dan lebih memperdulikan minoritas yang tertinggal. Menyelamatakan para pasien gangguan jiwa dan mengantarkannya ke rumah sakit jiwa ataupun dinas sosial.

Dengan adanya Rumah sakit Jiwa, para pasien dengan gangguan jiwa dapat dirawat dengan baik. Ditolong dan diusahakan kembali ke kondisi yang seharusnya, walau terlihat sulit mengembalikan ke kondisi normal sepenuhnya. Rutinnya melakukan perawatan dan mengkonsumsi obat-obatan menjadi hal yang harus dilakukan. Beginilah kondisi sekitar. Mari, jangan menghindar.

Rumah Makan Dekat Rumah Sakit : Seram- Seram Sedap

Untuk kedua kalinya ber-orientasi di rumah sakit. Semakin lama berada dirumah sakit, rasanya semakin siap gak siap untuk bekerja dilingkungan ini. Beberapa sumber juga mengakui bahwa rumah sakit adalah sarang penyakit. Dimana ini adalah tempat kamu bisa menemukan setiap orang dengan setiap penyakit yang berbeda. Keparahan yang sedang hingga keparahan tak terdeskripsikan.



Banyaknya pasien maupun pengunjung rumah sakit, baik yang berobat inap maupun berobat jalan, memiliki virusnya masing-masing. Tanpa kita sadari, kita menghirup salah satunya.

Virus, bakteri, yang ada dirumah sakit dapat berpindah dengan mudahnya. Apalagi kita ketahui bahwa udara adalah perantara yang baik hati yang membawa dari ujung ke ujung tiada ujung. Kita ataupun mereka yang tidak tahu apa-apa bisa saja terserang tiba-tiba jika kita berhasil dimasuki oleh udara yang terhidup yang mengandung virus maupun bakteri.



Banyaknya tempat dagangan bukan lagi hal biasa. Ketika semua harga menjadi lebih dari biasanya. Begitu juga rumah makan yang berada disekitaran rumah sakit. Banyak juga tenaga kesehatan yang makan siang maupun makan malam dengan singgah kerujah makan setempat. Bahkan beberapa dari mereka ada yang masih memakai pakaian dinas yang baru saja keluar dari rumah sakit. Tak sedikit juga dari tenaga kesehatan yang (mungkin) lupa mencuci tangan dan mengamankan diri.

Adanya hal sederhana seperti ini membuat saya berfikir ulang untuk makan di rumah makan tepat didaerahan rumah sakit. Persentase akan terkenanya virus maupun bakteri bisa dikatakan tinggi. Belum lagi kebersihan dari rumah makan itu sendiri, karena pada faktanya tak semua rumah makan benar-benar menjaga kebersihan dan prinsip kesehatan dalam menjual makanan yang tersedia, belum lagi kita tidak tahu tajap pengelolaan. Ditambah lagi dengan keadaan udara sang penghantar virus maupun bakteri.

Tak ingin menakut-nakiti. Hanya saja ini pandangan diri akan kondisi yang sedang dihadapi. Membawa bekal sendiri dan memasak dirumah menjadi pilihan yang pasti dalam hal menjaga kesehatan diri. Karena kesehatan awal dari semua kepentingan, tak akan mampu beraktivitas jika diri tak sehat. Ada baiknya lebih teliti lagi dalam memilih makanan, dan juga tempat dimana untuk makan. Karena mencegah lebih baik dari mengobati. 

Rumah Sakit Jiwa : Syukur Pada Tuhan Kamu Sehat Jiwa Raga


Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan seperti apa kehidupan dan suasana di rumah sakit jiwa. Pertama kali masuk berdinas, masih takut dan tidak berani bersentuhan atau bahkan berbicara dari jarak dekat dengan klien. Paling dekat hanya 1 meter saja, dan dibalik jeruji besi jendela.

Tidak semua pasien rumah sakit jiwa dapat dibebaskan begitu saja. Banyak dari mereka yang terobsesi ingin kabur dengan kondisi yang masih buruk dan kooperatif. Alhasil, habis makan pagi selalu saja masuk lagi kekekamar dan dikunci. Jika ingin berkomunikasi, tentu lewat jendela besi saja, dan tentunya kamar mandi berada didalam ruangan agar klien tetap lancar dalam proses toileting.

                                   
Diagnosa yang sering ditemukan di rumah sakit jiwa mulai dari halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan. Ada juga waham kebesaran, waham nihilistik, waham unik lainnya. Diagnosa perilaku kekerasan, suka memukul jika kambuh, bagi klien awal tentunya dirantai menghindari terjadinya kegaduhan diruangan.

Hari hari berlalu, sudah bisa terbiasa. Saya menyaksikan mereka dimandikan ramai-ramai. Mandi pagi, makan siang, bersih-bersih menjadi kegiatan yang rutun setiap hari, bahkan bertahun tahun. Tak sedikit juga klien berulang, sudah masuk, pulang, dan masuk lagi.

Hampir semua dari klien dirumah sakit jiwa juga memiliki diagnosa kurang perawatan diri. Menjadi malas mandi, bahkan banyak klien dengan toileting yang berantakan sehingga ruangan menjadi cukup bau menyengat, dan pesing. Hal hal ini juga tentunya menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi.


Sedih, ketika setengah dari ratusan klien rumah sakit jiwa jarang mendapatkan kunjungan keluarga. Diabaikan. Ditinggalkan. Dilupakan. Tak sedikit juga yang suka memanggil dan berkata "suster.. suster.. keluarga saya kapan datang?" Dan kami juga bingung harus berkata apa. Naluri ini juga tak sanggup mengabaikan terlalu lama. 

Sedih, ketika pasien yang sudah kooperatif dan seharusnya pulang menjadi tinggal dan membantu para tenaga kesehatan yang ada dirumah sakit jiwa. Kemampuan mereka yang sudah baikan menjadi terabaikan. Sampai dilingkungan sekitar yang ada hanya penolakan. Pengejekan. Pembullyan. Tekanan batin yang menjadi jadi membuat klien mengalami kekambuhan, atau bahkan kekecewaan dan memilih balik tinggal seterusnya dirumah sakit jiwa. Paradigma kita sungguh kejam. Seharusnya kita ubah total hal itu.

Banyak cerita tentang kisah kisah rumah sakit jiwa yang belum terceritakan. Petikan petikan nilai dan moral kehidupan hanya menjadi benih tertanam secara personal. Karena hasil dari olahan pikiran manusia berbeda beda. Hanya saja saya sungguh tak menduga. Rumah sakit jiwa, begini adanya.

Kisah- Kisah Profesi Ns : Fakta - fakta di Rumah Sakit Jiwa

Sudah menjalani minggu kedua melaksanakan program profesi demi sebuah gelar yang dinanti dibelakang nama. Rumah sakit Jiwa tentunya berasa beda dengan dinas dirumah sakit lainnya. Karena yang ditangani tidak semuanya mampu "berfikiran normal".

Sumber : Pinterest

Penasaran? Ini beberapa fakta yang dapat saya simpulkan selama menikmati dunia dirumah sakit jiwa :

1. Dirumah sakit jiwa banyak pasien dengan beragam penyakit seperti: halusinasi, waham, perilaku kekerasa, defisit perawatan diri, isolasi sosial, harga diri rendah, stress, depresi, maupun penyakit fisik lainnya yang menjadikan pasien menjadi terganggu jiwanya.

2. Banyaknya pasien hingga beratusan, setengah dari ratusan ratusan pasien tersebut dihuni oleh para pasien lelaki.

3. Karena gangguan yang dimiliki, para pasien kebanyakan tidak mampu membersihkan diri sendiri, alhasil, jangan heran jika pergi kerumah sakit jiwa akan ada bau khas yang menjadi ciri khas.

4. Tidak sedikit juga pasien yang sebenarnya masih mampu "berfikir normal" hanya saja dikarenakan faktor umur dan tidak baiknya toileting, keluarga mengirimkan pasien ke rumah sakit jiwa

5. Dikarenakan imun mereka yang cukup kuat, jarang pasien rumah sakit jiwa terkena penyakit berat dalam hal fisik, bisa saja dikarenakan mereka juga tidak terlalu memikirkan penyakit yang sebenarnya dimiliki.

Sumber : Pinterest


6. Dari setengah lelaki yang menghuni rumah sakit jiwa, setengah dari setengah pasien lelaki tersebut banyak yang "masuk" karena mengkonsumsi NAPZA

7. Tidak sedikit juga pasien yang dirawat dirumah sakit jiwa sudah bergelar S1, bahkan ada juga beberapa yang menyandang gelar "insinyur"

8. Para pasien rumah sakit jiwa juga diberdayakan dengan baik, seperti bersih-bersih setiap hari, ataupun mencuci pakaian sendiri dan kawan lainnya

9. Sejauh ini pasien termuda yang pernah saya jumpai berumur 15 tahun

10. Banyak pasien juga bercerita bahwa mereka merindukan keluarga. Tak sedikit dari pasien gangguan jiwa diabaikan oleh keluarga.

Jadi bagaimana? Apakah kamu punya fakta lainnya? Yuk, share di kolom komen!

Minggu ke-5 : Pengalaman Penanganan "Pergi Jauh"

Sudah hari ke 4 dinas dirumah sakit dan mulai terbiasa dengan suasana disekitar. Tidak terasa bahwa dunia kesehatan akan terasa seperti ini, ketika mementingkan urusan orang lain dibandingkan urusanmu menjadi hal yang lumrah dan memang seharusnya.

Sesungguhnya di hari ke-2 saya sudah mendengar adanya pasien exit, kalau dirumah sakit, pasien yang sudah “pergi jauh” akan selalu disebut “pasien exit” dan terasa cukup menengangkan. Tepat pada hari kedua disiang hari juga terdengar adanya pasien exit, seorang wanita yang terkena diagnosa “MDR”. Untuk pertama kalianya saya melakukan perawatan jenazah dengan wanita tersebut. Walau saya selalu penasaran bagaimana rasanya jika menyaksikan langsung “perginya seseorang” dengan caraNya.



Tiba diruangan, seorang Ibu dari pasien yang exit sudah menangis dan menciumi kening pasien. Menangis tersedu-sedu perasaan kehilangan dari seorang Ibu. Tak lama kami mendekat lalu beliau berkata “hati-hati ya nak” dan tentunya iya.

Ketika pasien exit dan peralatan masih terapasang pada pasien, tindakan awal yang dilakukan terlebih dahulu ialah meng-up-kan semua peralatan medis yang terpasang, mulai dari infuse, oksigen, kateter, pampers dan peralatan lainnya jika masih terpasang, harus dilepaskan.  Kami juga mengikat dibagian kepala, apalagi jika pasien meninggal dengan keadaan mulut terbuka. Menutup bagian mata pasien yang terbuka, juga mengikat bagian tangan, dan mengikat bagian kaki. Sebelum melakukan hal tersebut tentunya juga kami melepaskan pakaian pasien yang sudah exit, walau sebenarnya khusus dalam hal ini kita meminta persetujuan dari keluarga yang bersangkutan, karena tidak selamanya keluarga mau pasien exit dilepaskan  pakaiannya, dan biasanya setelah dirapikan maka pasien akan dijemput oleh petugas dari kamar jenazah untuk dipulangkan.

Tepat hari ke-4, saya mendapatkan jadwal di sore hari yang bertepatan start jam 14.00-20.00.  Sekitaran pukul 15.30 atau lewat, saya kedatangan pasien baru dan akan memasuki ruangan. Saat pertama saya berjumpa dengan pasien tersebut, saya bahkan mengira bahwa dia anak yang  masih belia karena badan yang begitu kecil untuk seumurannya dan berat badan yang kurang-jauh sekali dari kata ideal (kurus).  Pasien juga datang dengan keadaan duduk, susah untuk tidur terlentang, dan juga memakai oksigen dengan kekuatan 10 liter, yang artinya bantuan nafas yang diberikan sudah sangat banyak untuk membantu adik tersebut dalam bernafas. Setelah diberikan infuse, ternyata dalam waktu 2 jam kemudian sudah habis dan keluarga datang melapor untuk digantikan.



Sampai diruangan adik tersebut, yang kebetulan umurnya 3 tahun dibawah saya, sudah terlihat lepas dan tidur miring kesebelah kanan. Saya langsung mengganti infus dan ibunya memanggilnya dengan suara yang keras sembari mendoakan dan mengucap ayat.  Ketika ibu panic, untuk perata kalinya pun saya juga panic karena nafas dari adik terebut sudah tinggal 1-1 bahkan sudah dibantu oksigen tetap saja begitu. Berlari keruangan depan dan mengambil alat pengukur tekanan darah, dan sebelum saya lakukan pemeriksaan, saya sudah meraba duluan nadi radialis yang berada dibawah jempol (sejajaran jempol) dan sudah tidak ada. Supaya semakin yakin, saya juga melakukan pemeriksaan tekanan darah dan hasilnya sama, tidak ada terdengar suara detakan jantung seperti biasanya.

Ibu dari pasien meminta saya untuk memastikan lebih pasti lagi, lalu saya panggil dokter jaga yang sedang berdiri didepan ruangan dan baru saja datang. Dengan mimic muka yang terkejut, karena saat masuk memang keadaan pasien masih terlihat dapat tertolong. Sampai diruangan dokter melakukan pemeriksaan nadi radialis kembali, mengecek bagian kaki dengan menekan salah satu bagian kaki, melihat bagian mata dan melakukan pemeriksaan menggunakan senter. Meraba nadi carotis yang terdapat dibagian kanan-kiri leher.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan pasien “pergi jauh” secara langsung. Ketika bahkan saya tak mampu mengucap apapun. Melihat Ibu yang menangis tersedu kehilangan anak pertamanya yang sudah dirawat sejak 5 tahun yang lalu dikarenakan penyakit getah bening. Yang mampu saya lakukan hanyalah bersyukur karena saya masih bisa bernafas tanpa memnggunakan bantuan oksigen, bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda. Bisa mengatur kondisi cairan tubuh sendiri tanpa menggunakan infus.



Karena penyakit bisa datang kapan saja. Penyakit yang ditakdirkan dan penyakit yang diciptakan sendiri. Hanya saja kita terlalu ego tidak memelihara pemberian Tuhan yang begitu berharga. Karena pada awalnya setiap tubuh manusia diciptakan “anggota perang” yang siap melawan apa saja yang menghantam tubuh anda. Jika anggota perang bekerja sendiri tanpa bantuan eksternal dari usaha anda, itu namanya terlalu kejam.  Jaga apa yang bisa anda jaga. Rawat apa yang bisa anda rawat. Karena kita bisa dipanggil kapan saja. Tapi rasannya terlalu sedih jika dipanggil bukan karena waktuNya, tapi karena kecorobohan kita yang  tak pernah menjaga apa yang sudah diberikanNya.



Visiters Rumah Sakit : Dianjurkan Tidak Membawa Anak-Anak



Dinas dirumah sakit membuat saya menjumpai banyak orang, menghadapi banyak orang dengan karakter yang berbeda beda, dan kebiasaan berbeda-beda, contohnya para pengunjung. Tidak sedikit dari para pengunjung yang datang kerumah sakit membawa anak kecil, yang masih “berusia emas” 

Rumah sakit adalah tepat berkumpulnya para mereka-mereka yang sakit dan sedang dirawat. Tempat ini juga dikenal sebagai saah satu sarang sumber penyakit karena bakteri- bakteri yang banyak dan tidak terlihat. Imun anak-anak yang masih  “golden age” tidaklah sekuat imun orang dewasa yang sering berkeliaran dirumah sakit, hal ini menjadi kekuatiran tersendiri bagi beberapa dari kami yang sedang dinas dirumah sakit.

Source: www.google.co.id/search?tbm=isch&sa=1&q=anak+golden+age


Pernah suatu kejadian ketika saya sedang dinas disebuah ruangan paru khusus untuk para penderita “TBC, Pneumonia, Efusi Pleura, bahkan pasien MDR, BTA+, dan sebagainya”.  Ruangan tersebut sangat rawan apalagi hampir setengah dari ruangan dipenuhi oleh para penderita TBC yang bakterinya menular melalui udara. Didalam ruangan tersebut terdapat  beberapa keluarga yang membawa anak dengan usia dini tanpa menggunakan masker, padahal saat diawal ruangan sudah dikatakan dan diingatkan bahwa sebelum memasuki ruangan tersebut harus menggunakan masker. Bayangkan saja jika anak sedini itu sudah terkena TBC yang  menyiksa dan harus rutin minum obat.

Kekurang-pengetahuan masyarakat menurut saya terkadang terlalu berbahaya. Merugikan diri mereka sendiri walau sebenarnya sudah diingatkan oleh petugas yang bersangkutan dan sudah ditempelkan sebuah pengumuman pemakaian masker. Belum lagi virus virus lainnya yang bisa saja tertularkan melalui udara  maupun sentuhan.


Hal-hal sesepele ini kiranya menjadi pengingat bagi siapapun dari kita yang sedang berkunjung ataupun yang ingin mengunjungi keluarga maupun rekan dirumah sakit untuk tidak memebawa anak usia dini dan rentan dikarenakan rawan terjadinya penularan penyakit. Karena kita sebagai orang dewasalah yang harusnya berbijak diri dalam menghindari kejadian penularan seperti ini. Untuk rekan yang lain, silahkan waspada diri ya! 

"Sebelum meninggal, kata Mama : Jadi dokter saja ya nang"

Terlalu asik mengeluh akan kehidupan yang dijalani, kita lupa kalau ada yang lebih menyedihkan kondisi hidupnya dari pada yang kita alami, bahkan bisa saja dikondisi sekritis yang ada, sesungguhnya mereka masih mensyukuri arti kehidupan.

Hari ini saat saya dinas dirumah sakit, saya bertemu dengan dua anak kecil, lelaki dan perempuan. Si kakak bernama Diana  sang gadis berumur 9 tahun dan si adik bernama boston yang berumur 4 tahun. Lalu saya bertanya mengapa mereka berdiri dan tidak bersama orangtua. "Adik, ibunya dimana?" Lalu dia jawab, "ibu saya sudah meninggal" dan saya pun terdiam.

Diana bilang, dia ada 6 bersaudara. 2 sudah meninggal, dan juga ibunya yang katanya meninggal saat dia masih belia dikarenakan "jantung bocor". Sekejap tenang dan diam. Ketika gadis sekecil dia yang tinggal satu satunya perempuan sudah dapat menjaga adiknya yang masih berusia 4 tahun tanpa sifat kasar sedikitpun.

Sudah dua hari Diana tidak masuk sekolah karena kata ayah, ikut saja ke medan sekalian jaga kakek yang sedang dirawat. Ada sekitaran 2 jam kita berbincang dan syukurnya Diana ingin diajak berbicara.

Sejenak saya bertanya ingin jadi apa gadis ini kelak, dan dia jawab "Ingin jadi dokter". Lalu saya bertanya balik, mengapa harus menjadi dokter yang sepertinya sudah terdoktrin pada anak sejak zaman dahulu kala. "Sebenarnya gamau jadi dokter sus, tapi sebelum mama meninggal katanya, udahlah nang jadi dokter aja nanti kamu ya", sahutnya.



Diumur yang cukup belia bahkan dia sudah berusaha untuk memahami bagaimana menjadi perempuan tangguh seutuhnya. Tak heran jika nantinya Diana bisa tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa dari perempuan seusianya.

"Nanti juga aku mau ke papua, ikut abang disana. Cuman mau kebandung juga sama bou, sus. Tapi kata ayah ke papua  aja, padahal jauh kan sus, biaya pesawat aja udah mahal sus kesana" - katanya.

Sudah hampir jam 11 siang, Diana dan Boston belum juga sarapan. Bahkan Ayah saja sudah setengah jam menghilang, dan mereka setia menunggu. Aku berpesan akan pergi sebentar keluar, berniat untuk membelikan mereka makan untuk sarapan tanpa membilang. Ketika berbalik dengan belanjaan, mereka sudah menghilang.

Diana gadis yang ramah. Hitam manis, bersenyuman tulus. Kelak saja bisa berjumpa Diana lagi. Semoga dia tak salah jalan, apalagi salah pergaulan. Bahkan wanita seusiaku tak mampu membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa Ibu, dan dia mampu. Bahkan sudah sejauh ini. See you somewhere, Di.